Mei 2019 - Fuji Astuty

Jumat, Mei 24, 2019

Tokopedia, OVO dan Grab berbagi di Bulan Ramadhan
Mei 24, 20190 Comments


Bulan Ramadhan 

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah. Bulan ini adalah bulan kesembilan di dalam kalender Islam. Seluruh umat muslim di dunia merayakan bulan ini dengan melakukan ibadah. Selain itu, bulan ini merupakan bulan penuh ampunan. Yang merayakan bulan ini seluruh umat muslim di dunia termasuk juga umat muslim di kota Medan. Masyarakat kota Medan begitu bahagia menyambut bulan ini. Bagi umat muslim, bulan ini melatih hawa nafsu untuk bisa dikendalikan melalui puasa. Tidak hanya berpuasa bahkan ibadah-ibadah lainnya dilaksanakan, antara lain : sholat tarawih, tadarusan dan di 10 hari terakhir umat muslim melakukan i’tikaf. Sehingga masjid-masjid ramai oleh para jamaah untuk beribadah.

Masjid-masjid di kota Medan menyediakan menu berbuka mulai dari takjil hingga nasi untuk orang-orang yang datang ke Masjid yang ingin berbuka puasa. Selain itu, para ustadz akan mengisi ceramah untuk para jamaah baik di saat menunggu berbuka atau setelah sholat Isya atau sesudah Tarawih.

Tradisi di Kota Medan saat Bulan Ramadhan

Seperti sudah menjadi tradisi di Kota Medan, masyarakat akan meramaikan suasana di pinggir jalan dengan menjajakan dagangannya untuk menyambut berbuka puasa. Bahkan di Medan, ada nama yang sangat tidak asing yaitu “Ramadhan Fair” . Tempat ini merupakan kumpulan dari para pedagang dengan membuka stan-stan mulai dari kuliner hingga busana. Lokasi tempatnya di sebelah Masjid Al Mahsum. Tempat ini akan dibuka pada saat bulan Ramadhan. Namun, bila bulan Ramadhan telah berganti maka tempat ini akan tutup. 

Begitu indahnya bulan Ramadhan sehingga tidak hanya umat muslim yang menyambutnya melainkan umat non muslim pun juga turut serta. Hal ini bisa dilihat, dari kafe dan restauran yang mereka buka juga menyediakan menu takjil dan paket berbuka puasa.



Festival Patungan untuk Berbagi

Kemarin, Blogger Medan diundang untuk mengikuti yang dinamakan “Festival Patungan untuk Berbagi” bersama dengan Grab, Tokopedia dan OVO. Festival ini akan memberikan berbagai macam aneka ragam acara mulai dari Wali, bazaar dan menu kuliner Medan serta mendapatkan cashback 30%. Lokasi acara ini di halaman istana Maimun, acaranya dimulai dari tanggal 22 Mei – 26 Mei 2019. Dan dibuka pukul 15.00 wib. Jadi buruan datang kemari, tentu tidak nyesal. 

Di tempat ini, banyak stan-stan yang dibuka mulai dari kuliner, hingga kerajinan tangan. Jadi para pengunjung tidak perlu khawatir untuk mencari bukaan karena bisa sekalian ngabuburit. Jadi, kita bisa mencicipi menu-menu tersebut dengan harga yang bisa dijangkau. Selain itu, ada juga stan aksesoris yaitu menjual giwang yang terbuat dari kerajinan tangan, ada juga rajutan yang diolah menjadi sebuah boneka, sepatu dan lain-lainnya. Bahkan kartu ucapan yang dibentuk dari limbah, benar-benar menunjukkan ekonomi kreatif. 







Umumnya, saat menjelang bulan Syawal yaitu bulan kemenangan. Banyak umat muslim diberikan parcel dari kliennya. Jadi bila, kalian ingin memberikan parcel di tempat itu juga menjual parcel, dan parcelnya sangat unik. Melalui parcel itu kita juga bisa berdonasi untuk anak yatim.



Kegiatan yang diadakan oleh Grab ini tidak hanya hiburan melainkan juga membuka donasi untuk beramal bagi pendidikan anak yatim bisa melalui Tokopedia, OVO dan juga Grab. Di tempat festival itu, juga disediakan mushalla, dan yang ingin melaksanakan ibadah telah tersedia. Jadi sembari mengikuti festival itu, ibadah tetap jalan juga. 




THR Ramadhan

Sudah memasuki puasa yang ke 19, sebentar lagi kita akan menyambut bulan Syawal, "THR" kata ini tidak asing bagi kita dan sangat dinantikan, mulai dari anak-anak hingga para pekerja juga termasuk pengusaha. 

Di Festival ini kita bisa memiliki kesempatan untuk mendapatkan saldo OVO senilai Rp 50.000,- , dan ini bisa menjadi "THR Ramadhan" lalu cara mendapatkannya gimana?

1. Follow @grabid @grab.mdn dan like postingan ini.
2. Datang ke festival #PatunganUntukBerbagi
3. Beli makanan atau parcel yang ada di Festival #PatunganUntukBerbagi
4. Upload bukti pembelian kamu ke insta story. Apabila jumlah view kamu mencapai 150, kirim screenshot dan data kamu (nama/no. Telepon/alamat) ke whatsapp : 081912151997. Maka kamu akan mendapatkan saldo OVO Rp 50.000,- .
5. Kuota harian terbata. Untuk 60 orang pertama/hari. Penyerahan data paling lambat pukul 22.00 wib tiap harinya. 
6. Saldo OVO hanya bisa didapatkan sekali.
7. Periode berlangsung hingga 26 Mei 2019.

Sekarang sudah tahu caranya, bukan! Semoga lebaran tahun ini menjadi lebaran yang spesial bahkan penuh keberkahan bagi kita semua, Aamiin Ya Allah.

Reading Time:

Jumat, Mei 03, 2019

Seorang Sahabat Rasul Menyesal saat menghadapi Sakaratul Maut.
Mei 03, 20190 Comments
Kini aku mulai sadar, sahabat-sahabat Rasulullah orang yang memiliki keimanan seperti apa. Bila dibandingkan dengan diriku, tentu tidak ada apa-apanya. Kisah ini, kutulis ulang, untuk mengingatkan diriku ini dan semoga bermanfaat bagi orang yang membacanya.


Sya’ban ra merupakan salah seorang sahabat Rasulullah. Ia memiliki kebiasaan yang unik. Ia datang ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah. Ia selalu mengambil posisi di pojok Mesjid di setiap shalat berjamaah dan I’tikaf. Alasannya, selalu mengambil posisi di pojok masjid karena ia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan ini, sudah dipahami oleh semua orang bahkan Rasulullah sendiri.

Pada suatu pagi, saat shalat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah SAW merasa heran karena tidak melihat Sya’ban ra pada posisi seperti biasanya. Rasul pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak ada satu orang pun yang melihat Sya’ban ra.
Selesai shalat Subuh Rasul pun bertanya lagi “Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

Rasul pun bertanya lagi “Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban. Kemudian Rasulullah bersama para sahabat pergi ke rumah Syah’ban. Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu lama terlebih mereka menempuh dengan berjalan kaki.

Akhirnya, Rasulullah dan para sahabat sampai di rumah Sya’ban pada waktu shalat Dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah Sya’ban, beliau mengucapkan salam dan keluarlah wanita sambil membalas salam.

“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Tanya Rasulullah.
“Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.”  Jawab wanita tersebut.
“Bolehkah kami menemui  Sya’ban  ra, yang  tidak hadir shalat Subuh  di masjid pagi ini?” ucap Rasul. 
“Innalillahi Wa innailaihi roji’un”  jawab semuanya.
Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh  di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian, istri Sya’ban ra bertanya “Ya  Rasulullah ada  ssesuatu  yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat.  Kami semua tidak paham apa maksudnya.”

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?  Tanya Rasulullah.

“Pada masing-masing teriakannya, dia berucap kalimat “ Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” jawab istri Sya’ban. 

Rasulullah SAW pun melantunkaan ayat yang terdapat surah  Qaaf  ayat 22:  Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”

“Saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT.  Bukan hanya  itu,  semua ganjaran dari perbuatannya  diperlihatkan  oleh Allah. Apa yang  dilihat oleh Sya’ban ra dan  orang yang sakaratul maut  tidak bisa disaksikan yang lain. Dalam pandangannya  yang  tajam itu Sya’ban ra melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjjd untuk shalat berjamaah lima waktu . Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki,  tentu itu bukan  jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya  ke masjid,” ujar Rasululah. 

Dia melihat seperti  apa bentuk surge yang  dijanjikan sebagai ganjarannya.  Saat dia melihat  dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh” timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra, mengapa  rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. dalam  penggalan kalimat  berikutnya Sya’ban ra melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.

Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang.  Dia  masuk  ke  dalam rumahnya dan mengambil  satu baju  lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban  memakai pakaian yang bagus (baru di dalam dan yang jelek (butut) di luar.

Dia berpikir  jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar  dan sampai  di masjid dia  bisa membuka baju luar  dan  shalat dengan  baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera  membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang  tersebut  kemudian  dia memapahnya  ke  masjid  agar  dapat melakukan  shalat Subuh bersama-sama.

Orang  itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah Sya’ban ra pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi  “Aduh!! Kenapa tidak yang baru” timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban  ra.  Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukuran roti Arab (sekitar tiga kali ukuran rata-rata roti Indonesia). Ketika baru saja ingin memulai sarapan,  muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal itu, Sya’ban ra merasa iba. Ia  kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua sus ke dalam gelas  dengan ukuran yang sama rata, kemudian mereka makan bersama-sama, kemudian mereka makan bersaama-sama.  Allah SWT kemuddiaan memperlihatkan  Sya’ban ra dengan surga yang indah.

Ketika  melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “Aduh kenapa tidak semua!”  Sya’ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu  kepada pengemis tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. Masya  Allah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.

Sesungguhnya pada suatu saat nanti, kita  semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu  barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia. mereka meminta  untuk ditunda sesat karena ingin bersedekah. namun, kematian akan datang  pada waktunya,  tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan.

Kisah salah seorang dari para sahabat Rasulullah ini memberi kita pelajaran bagaimana kita dalam mencintai Allah. Kematian akan datang tanpa siapapun yang mengetahui, sudahkah kita persiapkan diri kita untuk bertemu dengan Allah?

Reading Time: