Fuji Astuty

Senin, Oktober 21, 2019

Diaryku, Sahabatku
Oktober 21, 2019 6 Comments



Mencari sahabat itu tidaklah mudah, apalagi yang bisa menjaga rahasia kita dengan baik. Tidak hanya itu saja, saat kita sedih dia selalu ada. Alangkah bersyukurnya kita bila menemukan orang seperti itu. Dia hadir tidak hanya kita senang saja dan dia selalu mengingatkan kita kepada Allah.

Kira-kira apakah ada orang seperti itu ya?

Jauh sebelumnya, banyak orang menceritakan tentang dirinya dalam diary atau sapaan yang akrab adalah buku harian. Di dalam buku harian itu tidak ada yang ditutupi bagai sahabat yang paling memahami kita. Kita tidak perlu khawatir rahasia kita akan terungkap. Semua kisah kita, mulai dari seseorang yang kita kagumi, keluarga, sekolah, dan lainnya tertuang dengan baik dalam buku harian. Walau hanya sebuah buku, namun apa yang menjadi kegundahan hati kita akan reda dengan dituangkan dalam sebuah tulisan. Bahkan ada yang menulis sampai menetes air mata atau menangis untuk menceritakan kesedihan kita. Buku harian itu akan selalu setia menemani kita. Sebaliknya saat kita menceritakan pengalaman yang lucu, sembari menulis kita juga tertawa sendiri, dan buku harian tetap setia bersama kita.

Seiring waktu berjalan, diary atau buku harian mulai ditinggalkan, dan beralih pada sebuah file di laptop. Semakin canggih teknologi, beralih ke sebuah halaman pribadi yang dikenal dengan blog. Banyak orang yang menulis di blog mengenai curhatan hatinya. Namun, tidak semua blog berisi tentang curhatannya. Semua itu bergantung pada orangnya.

Diary atau buku harian, walau telah ditinggal oleh banyak orang, namun kesetiaannya tidak pernah pudar. Bagaimana dengan kalian?
  

Reading Time:

Kamis, Agustus 08, 2019

(Review) Inilah Proposal Jodohku
Agustus 08, 20190 Comments


Penulis : Tim Edukasi Karya Indonesia
Tebal : 176 halaman
ISBN : 978-623-910-100-8
Terbit : Tahun 2019
Harga : Rp 89.000,-

Sinopsis :
Buku ini ditujukan bagi orang yang sedang menanti jodoh. Kita tahu banyak orang yang galau dalam menanti jodoh, melalui buku ini kegalauan itu akan sirna. Buku ini membahas secara detil apa yang harus disiapkan dalam menjemput jodoh. Walaupun memiliki halaman 176, namun pembaca tidak bosan untuk membaca buku ini. Buku ini juga dilengkapi dari sisi ilmu psikologinya. Dan sangat cepat untuk dibaca karena tidak berupa penjelasan secara monoton melainkan terdapat strategi-strategi mulai dari pengenalan diri bahkan hingga ke jenjang pernikahan. Selain itu, bahasa yang disajikan pada buku ini sangat sederhana dan mudah dipahami.

Oh iya, kenapa kita harus mengenal karakter diri kita? Kita tidak menyadari bahwa itu sangat penting, di dalam QS An Nur : 26 bahwa "wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji pula. Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.

Siapapun tidak ingin mendapatkan pasangan yang buruk, maka kita perlu perbaiki diri agar kita mendapatkan pasangan yang baik. Sebenarnya jodoh kita adalah cerminan dari diri kita sendiri. Walaupun saya belum menikah, cuma banyak orang-orang yang telah menikah mengatakan demikian. Sebaiknya, kita pantaskan diri kita terlebih dulu.

Ada kutipan kalimat bijak dari Tere Liye ,
Berhentilah bertanya bagaimana menemukan pasangan yang baik. Mulailah menjadi orang yang baik dan terus lebih baik, maka akan terjawab sendiri pertanyaan ini. 
Dari kalimat bijak ini, kita tentu paham maksudnya sebaiknya kita terus perbaiki diri kita, karena akan menghasilkan energi positif di dalam diri kita, kemudian energi itu akan membawa pada pasangan kita atau jodoh kita.



Kenapa buku ini sangat bagus? Karena kita tahu, khususnya di negara kita sekarang ini, tingkat perceraian cukup tinggi, belum lagi, permasalahan-permasalahan yang ada di dalam rumah tangga yang menyebabkan seseorang mengalami trauma untuk ke jenjang pernikahan. Melalui buku ini, kita dipahamkan sebuah konsep pernikahan seperti apa yang kita inginkan. Mulai dari pengenalan karakter diri. Di dalam buku ini, kita juga diminta untuk mengenal karakter diri kita. Dengan demikian kita bisa tahu, pasangan seperti apa yang kita dambakan atau inginkan.

Setelah memahami pengenalan diri, maka bab selanjutnya membahas mengenai tujuan hidup menikah, target menikah, menemukan calon impian, visi misi pernikahan, kriteria calon impian, ilmu yang harus disiapkan, apa yang membuatmu takut, persiapan menjadi orang tua, tips meyakinkan keluarga, manajemen hati, kolom curhat galau. Dari rincian bab-bab yang disajikan, menunjukkan langkah dalam mengisi proposal jodoh kita. Di dalam agama Islam, kita tahu bahwa pacaran itu sangat dilarang oleh agama. Karena lebih banyak yang kurang baik dibandingkan kebaikannya, karena itu dilarang oleh Allah SWT. Sementara orang yang sudah paham mengenai syariat Islam, mereka akan lebih memilih cara-cara yang di ajarkan oleh Islam. Meskipun begitu, ada juga kegagalan dalam berumah tangga, lalu siapa yang harus dipersalahkan. 



Kembali lagi, bagaimana pengisian pada proposal jodoh kita. Untuk itu kita perlu memahami poin-poin apa yang ada di dalam proposal jodoh kita. Dan bagaimana pengisian proposal tersebut, tentu tidak sembarangan bukan? Melainkan perlu ada ilmu untuk memahami dasar di dalam pengisian proposal jodoh, nah menurut saya, buku ini sangat tepat untuk bagaimana cara kita mengisi proposal jodoh kita. 

Semoga bermanfaat...
Reading Time:

Minggu, Agustus 04, 2019

Keindahan Masjid 99 Kubah di Makassar
Agustus 04, 20190 Comments

Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah bagi umat muslim namun juga sebagai rumah Allah, di tempat inilah umat muslim datang untuk beribadah dan bermunajat di hadapan Allah. Saat ini banyak dilakukan renovasi untuk Masjid, dan juga pembangunan Masjid. Salah satunya di kota Makassar, di kota ini berdiri Masjid yang Megah dan dinamakan Masjid Kubah 99. Masjid ini juga dijadikan icon baru. Dan tahun 2019, para jemaah bisa beribadah di Masjid ini. Masjid ini dibangun di atas lahan reklamasi – Pantai Losari. Dan memiliki luas bangunan 72 x 45 meter/ Masjid ini didesain oleh Gubernur Jawa Barat bernama Ridwan Kamil periode 2018-2023. Gubernur ini memang terkenal sudah mendesain beberapa masjid. Diantaranya : Masjid Al – Irsyad di kawasan Padalarang, Bandung Barat.

Sesuai namanya Masjid ini dipercantik dengan puluhan kubah. Dengan berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil hingga besar dan menghiasi bagian atas masjid. Dan mereka ditata sedemikian rupa dengan berbagai macam warna, ada merah, jingga dan kuning.

Masjid ini juga memiliki pelataran suci seperti Masjidil Haram di Mekah. Dan diperkirakan dapat menampung hingga 10 ribu orang. Kemegahannya menjadikan masjid ini sebagai icon baru di Sulawesi Selatan. Mengenai dana dalam pembangunan Masjid ini tentu tidak diragukan menghabiskan dana yang lumayan.

Untuk Indonesia Masjid ini akan masuk 10 yang terbaik. Dan akan menjadi salah satu dari 30 Masjid terunik di dunia. Masjid ini juga melibatkan arsitektur lokal yang bernama Pak Mursif.

Melihat gambarnya, saya berharap Allah mengijinkan dan meringankan langkah saya untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah di Masjid ini... Aamiin Allahumma Aamiin.



Semoga bermanfaat ...

Reading Time:

Jumat, Mei 03, 2019

Seorang Sahabat Rasul Menyesal saat menghadapi Sakaratul Maut.
Mei 03, 20190 Comments
Kini aku mulai sadar, sahabat-sahabat Rasulullah orang yang memiliki keimanan seperti apa. Bila dibandingkan dengan diriku, tentu tidak ada apa-apanya. Kisah ini, kutulis ulang, untuk mengingatkan diriku ini dan semoga bermanfaat bagi orang yang membacanya.


Sya’ban ra merupakan salah seorang sahabat Rasulullah. Ia memiliki kebiasaan yang unik. Ia datang ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah. Ia selalu mengambil posisi di pojok Mesjid di setiap shalat berjamaah dan I’tikaf. Alasannya, selalu mengambil posisi di pojok masjid karena ia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan ini, sudah dipahami oleh semua orang bahkan Rasulullah sendiri.

Pada suatu pagi, saat shalat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah SAW merasa heran karena tidak melihat Sya’ban ra pada posisi seperti biasanya. Rasul pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak ada satu orang pun yang melihat Sya’ban ra.
Selesai shalat Subuh Rasul pun bertanya lagi “Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

Rasul pun bertanya lagi “Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban. Kemudian Rasulullah bersama para sahabat pergi ke rumah Syah’ban. Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu lama terlebih mereka menempuh dengan berjalan kaki.

Akhirnya, Rasulullah dan para sahabat sampai di rumah Sya’ban pada waktu shalat Dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah Sya’ban, beliau mengucapkan salam dan keluarlah wanita sambil membalas salam.

“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Tanya Rasulullah.
“Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.”  Jawab wanita tersebut.
“Bolehkah kami menemui  Sya’ban  ra, yang  tidak hadir shalat Subuh  di masjid pagi ini?” ucap Rasul. 
“Innalillahi Wa innailaihi roji’un”  jawab semuanya.
Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh  di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian, istri Sya’ban ra bertanya “Ya  Rasulullah ada  ssesuatu  yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat.  Kami semua tidak paham apa maksudnya.”

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?  Tanya Rasulullah.

“Pada masing-masing teriakannya, dia berucap kalimat “ Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” jawab istri Sya’ban. 

Rasulullah SAW pun melantunkaan ayat yang terdapat surah  Qaaf  ayat 22:  Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”

“Saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT.  Bukan hanya  itu,  semua ganjaran dari perbuatannya  diperlihatkan  oleh Allah. Apa yang  dilihat oleh Sya’ban ra dan  orang yang sakaratul maut  tidak bisa disaksikan yang lain. Dalam pandangannya  yang  tajam itu Sya’ban ra melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjjd untuk shalat berjamaah lima waktu . Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki,  tentu itu bukan  jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya  ke masjid,” ujar Rasululah. 

Dia melihat seperti  apa bentuk surge yang  dijanjikan sebagai ganjarannya.  Saat dia melihat  dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh” timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra, mengapa  rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. dalam  penggalan kalimat  berikutnya Sya’ban ra melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.

Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang.  Dia  masuk  ke  dalam rumahnya dan mengambil  satu baju  lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban  memakai pakaian yang bagus (baru di dalam dan yang jelek (butut) di luar.

Dia berpikir  jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar  dan sampai  di masjid dia  bisa membuka baju luar  dan  shalat dengan  baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera  membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang  tersebut  kemudian  dia memapahnya  ke  masjid  agar  dapat melakukan  shalat Subuh bersama-sama.

Orang  itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah Sya’ban ra pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi  “Aduh!! Kenapa tidak yang baru” timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban  ra.  Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukuran roti Arab (sekitar tiga kali ukuran rata-rata roti Indonesia). Ketika baru saja ingin memulai sarapan,  muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal itu, Sya’ban ra merasa iba. Ia  kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua sus ke dalam gelas  dengan ukuran yang sama rata, kemudian mereka makan bersama-sama, kemudian mereka makan bersaama-sama.  Allah SWT kemuddiaan memperlihatkan  Sya’ban ra dengan surga yang indah.

Ketika  melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “Aduh kenapa tidak semua!”  Sya’ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu  kepada pengemis tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. Masya  Allah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.

Sesungguhnya pada suatu saat nanti, kita  semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu  barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia. mereka meminta  untuk ditunda sesat karena ingin bersedekah. namun, kematian akan datang  pada waktunya,  tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan.

Kisah salah seorang dari para sahabat Rasulullah ini memberi kita pelajaran bagaimana kita dalam mencintai Allah. Kematian akan datang tanpa siapapun yang mengetahui, sudahkah kita persiapkan diri kita untuk bertemu dengan Allah?

Reading Time: